AlQusyairi berkata dalam risalahnya juz I hal.279, “Muhadharah adalah permulaan, kemudian mukasyafah, lalu Musyahadah. Muhadharah adalah selalu hadirnya hati, ia jauh berada di balik tirai, walaupun ia dekat dengan penguasaa zikir. Kemudian setelahnya adalah Mukasyafah; yaitu kehadiran sifa Allah melalui bukti nyata, dalam keadaan seperti AliranAliran Tarekat. “Zuhhad” (orang-orang yang berperilaku zuhud), ”nussak” (orang-orang yang berusaha melakukan segala ajaran agama) atau “ubbad” (orang yang rajin melaksanakan ibadah). Lama kelamaan cara kehidupan rohani yang mereka tempuh, kemudian berkembang menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lebih murni, bahkan lebih MENGENAL3 JENIS TASAWUF. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, kata Nabi SAW. Misi irfan atau sufismenya kental sekali: penyempurnaan atau kekeramatan akhlak (makarimal akhlak). Sementara tauhid (akidah) dan syariat (fikih) hanya untuk membentuk dasar-dasarnya saja (dengan cara meyakinkan manusia setelahitu baru mukasyafah, yakni kehadiran kalbu dengan sifat nyatanya, lalu musyahadah, yaitu hadirnya Al-Haq tanpa dibayangkan. Orang yang bertahap muhadharah selalu terikat dengan ayat-ayat-Nya. Dan orang yang mukasyafah terhampar oleh Sifat-sifat-Nya. Sedangkan orang yang musyahadah Ismail Nawawi, Risalah Pembersih Jiwa, Karya KomunitiPembuat Konten Hiburan dan Pendidikan Jiwa. Labels # kenali ulama ABDUL QADIR JAILANI Ahlul Bait akademi berita Bicara Ilmu COVID19 Event Hakikat Makrifat Hamzah Fansuri iktikaf Imam Fakhruddin Ar-Razi inspirasi kasyaf kenali ulama kisah wali dan sufi Kitab and Book Review Kitab dan Book Review Majlis Haul Vay Tiền Nhanh Ggads. MUSYAHADAH Dari segi bahasa musyahadah itu berasal dari rumpun kata Syahida-Shaahada yg mempunyai arti bersaksi, karna itu seseorang belum dpt untuk dikatakan sebagai seorang islam jika orang tsb belum menyatakan akan akan dua kalimat shahadat. Didalam bermusyahadah ini juga sangatlah dibutuhkan ,sebab segala peristiwa atau kejadian itu yg pertama di tanyakan adalah adanya penyaksian atau saksi. Untuk penyaksian ini lebih tinggi tingkatanya dari yg kedua tadi. Akan tetapi kata mushahadah disini berarti penyaksian, yg berartikan bahwa suatu pandangan batin sebagai suatu penyaksian yg tidak diragukan lagi Di dalam Al Qur'anul Karim disebutkan tentang musyahadah/penyaksian seperti Ayat di bawah ini "Sesungguhnya Akulah Tuhanmu, maka lepaskanlah sandalmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci." Thaha 12 "Kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah."Al-Baqarah 115 "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan." Al-An'aam 79 Ibnu Athaillah menggambarkan secara bijak "Alam semesta ini gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta, namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma'rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta." Musyahadah yaitu Menyaksikan Allah" hubungan dengan mukasyafah, yang menghalangi diri hamba dengan Allah itu tidak ada,namun yang menghalangi adalah prasangka adanya sesuatu selain Alloh, dan Allah sesungguhnya tidak bisa dihijabi oleh apa pun. Karena jika ada hijab yang bisa menutupi Allah, berarti hijab itu lebih besar dan lebih hebat dibanding Allah. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa "Dialah yang melihat kita." Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkanpantulan pada diri kita, yang membukakan matahati kita dan sirr kita untuk memandangNya. Kesadaran menyaksikan dan Memandang Allah, kemudian mengekspresikan sebuah pengalaman demi pengalaman yang berbeda-beda antar para Sufi, sesuai dengan tingkat haliyah ruhaniyah kondisi ruhani masing-masing. Ada yang menyadari dalam pandangan tingkat Asma Allah, ada pula sampai ke Sifat Allah, bahkan ada yang sampai ke Dzat Allah. Lalu kemudian turun kembali melihat Sifat-sifatNya, kemudian Asma'-asmaNya, lalu melihat semesta makhlukNya. Lalu kita perlu mengoreksi diri sendiri lewat perkataan Abu Yazid al-Bisthamy, "Apa pun yang engkau bayangkan tentang Allah, Dia bertempat, berwarna, berpenjuru, bertempat, bergerak, diam, itu semua pasti bukan Allah SWT. Karena sifat-sifat tersebut adalah sifat makhluk." Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek Muroqobah, Musyahadah maupun Ma'rifah. Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam "Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah. Hamparan tekadnya tak pernah terhenti, dan selamanya berjalan, sampai lunglai di hadapan Hadratul Quds dan hamparan kemeseraan denganNya, sebagai tempat Mufatahah, Muwajahah, Mujalasah, Muhadatsah, Musyahadah, dan Muthala'ah." Ibnu Athaillah menyebutkan enam hal dalam soal hubungan hamba dengan Allah di hadapan Allah, yang harus dimaknai dengan rasa terdalam, untuk memahami dan membedakan satu dengan yang lain. Bukan dengan fikiran Mufatahah artinya, permulaan hamba menghadapNya di hamparan remuk redam dirinya dan munajat, lalu Allah membukakan tirai hakikat Asma, Sifat dan keagungan DzatNya, agar hamba luruh di sana dan lupa dari segala yang ada bersamaNya. Muwajahah, artinya saling berhadapan, adalah sikap menghadapnya hamba pada Tuhannya tanpa sedikit dan sejenak pun berpaling dariNya, tanpa alpa dari mengingatNya. Allah menemui dengan CahayaNya dan hamba menghadapnya dengan Sirrnya, hingga sama sekali tidak ada peluang untuk melihat selainNya, dan tidak menyaksikan kecuali hanya Dia. Mujalasah, artinya menetap dalam majlisNya dengan tetap teguh terus berdzikir tanpa alpa, patuh tunduk tanpa lalai, beradab penuh tanpa tergoda, dan hamba memuliakanNya seperti penghormatan cinta dan kemesraan agung, lalu disanalah Allah swt berfirman dalam hadits Qudsi, "Akulah berada dalam majlis yang berdzikir padaKu." Muhadatsah, maknanya dialog, yaitu menempatkan sirr rahasia batin dengan mengingatNya dan menghadapNya dengan hal-hal yang ditampakkan Allah pada sirr itu, hingga cahayaNya meluas dan rahasia-rahasiaNya bertumpuan. Inilah yangdisabdakan Nabi saw, "Pada ummat-ummat terdahulu ada kalangan disebut sebagai kalangan yang berdialog dengan Allah, dan pada ummatku pun ada, maka Umar diantaranya." Musyahadah, adalah ketersingkapan nyata, yang tidak lagi butuh bukti dan penjelasan, tak ada imajinasi maupun keraguan. Dikatakan, "Syuhud itu dari penyaksian yang disaksikan dan tersingkapnya Wujud." Muthala'ah, adalah keselarasan dengan Tauhid dalam setiap kepatuhan, ketaatan dan batin, semuanya kembali pada hakikat tanpa adanya kontemplasi atau analisa, dan setiap yang tampak senantiasa muncul rahasiaNya karena keparipurnaanNya. Musyahadah artinya runtuhnya runtuh secara pasti." Musyahadah inilah yang meruntuhkan hijab dan bukan merupakan wujud dari keruntuhan hijab itu. Runtuhnya hijab diikuti dengan nyatalah pada pandangan tentang Wujud yang terang. Oleh Robby H. Abror * Allah swt berfirman, Dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu QS Saba’ 47. Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan QS Al-Buruj 3. Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Lahir dan Maha Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu QS Al-Hadid 3. Ke mana pun engkau menghadap, di situlah wajah Allah QS Al-Baqarah 115. Kata kasyf ialah bentuk masdar yang berasal dari kasyafa-yaksyifu-kasyfan yang artinya menyingkapkan, menemukan, menghilangkan dan menampakkan. Dalam tasawuf, kasyf ialah pengetahuan yang diperoleh melalui kebiasaan berzikir, berkhalwat dan bermujahadah, juga hadir lewat firasat dan intuisi dzauq yang dalam manifestasinya berupa tersingkapnya tirai ketuhanan. Mukasyafah ialah tersingkapnya rahasia Allah yang tersembunyi. Para salik dapat menyaksikan yang gaib dengan terbukanya keyakinan melalui firasat firasah. Hadis firasat berbunyi, takutlah kalian akan firasatnya orang beriman sebab dia melihat dengan cahaya Allah HR Tirmidzi. Hadis firasat ini menjadi dasar bagi kasyf yang dialami para salik atau para wali. Imam Al-Ghazali menggunakan istilah itu dalam salah satu karyanya yang berjudul Mukasyafatul Qulub al-Muqarrib ila Hadrati ‘Allamil Ghuyub dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah yang Maha dalam Raudhah al-Thalibin wa ‘Umdah al-Salikin menyinonimkan dan menyamakan arti mukasyafah dengan musyahadah, bashirah mata hati, mata batin dan mu’aiyanah. Dalam ‘Ilmu al-Auliya’ Al-Hakim al-Tirmidzi menjelaskan bahwa ilmu seorang muqarrib orang yang berada sangat dekat dengan Allah yang telah menggenggam ilmu inabah kepasrahan, ilmu hati atau ilmu yang berguna al-‘ilm al-nafi’ selaras dengan mu’ayanah penglihatan langsung dan muwaka’annah keserupaan dalam hadis ihsan—Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu ka’annaka melihat-Nya, walaupun kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu—penekanan penghayatan pada praktik ka’anniyah [keseakanakanan] dalam perbuatan dan keyakinan. Dalam Haqa’iq al-Tashawwuf, Syeikh ‘Abdul Qadir Isa menegaskan bahwa, “Allah menyingkapkan penghalang inderawi para salik atau para wali dan menghilangkan segala sebab materi dari diri mereka sebagai hasil dari mujahadah, khalwat dan zikir yang mereka lakukan. Penglihatan mereka terejawantahkan dalam mata hati mereka. Mereka melihat dengan cahaya Allah. Inti kasyf ialah jika seorang hamba berpaling dari indera lahirnya kepada indera batinnya, jiwanya menjadi cahaya yang lembut dan menyinari sehingga mampu menyingkap tabir dan memperoleh ilham. Kasyf itu warisan Rasulullah saw yang benar dan diwarisi oleh para sahabat disebabkan kesucian hati mereka. Kasyf yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw adalah mukjizat, sedangkan kasyfnya para sahabat dan para wali adalah Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa “kesucian hati dan penglihatannya dapat dicapai dengan zikir. Dan ini tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang bertakwa. Takwa adalah pintu zikir. Zikir adalah pintu kasyf. Dan kasyf adalah pintu kemenangan terbesar, yaitu bertemu dengan Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menegaskan bahwa kasyf seringkali dialami oleh para ahli mujahadah. Mereka mampu menyibak hakikat hidup yang tak dipahami orang lain. Melalui mujahadah, khalwat dan zikir akan terbuka penghalang inderawi dan mereka dapat menyaksikan alam-alam Allah di mana roh bagian darinya. Zikir adalah makanan untuk pertumbuhan roh. Selama dia masih terus tumbuh dan berkembang maka dia akan sampai ke tingkat persaksian syuhud, setelah sebelumnya berada di tingkat ilmu. Kemudian dia mampu membuka tabir indera dan kesucian jiwa jadi sempurna. Itulah pengetahuan yang sebenarnya idrak. Lalu, dia akan memperoleh pemberian Allah, ilmu ladunni dan kunci ilahiah. Abul Qasim al-Qusyairy al-Naisabury menyebutkan pentingnya muhadharah, dalam kitabnya Al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilmi al-Tashawwuf, yakni kehadiran hati, sesudah itu baru mukasyafah yaitu kehadiran hati dengan sifat nyatanya, kemudian musyahadah yakni hadirnya al-Haqq tanpa dibayangkan. Ia analogikan dengan sebuah ilustrasi yang menarik, jika langit rahasia telah jernih dari awan yang menutupi, maka matahari penyaksian terpancar dari bintang kemuliaan. MUKÂSYAFAH adalah manifestasi pengetahuan di dalam hati sufi. Semua hati manusia sebenarnya mempunyai potensi yang sama dalam menerima mukâsyafah. Tetapi, mukâsyafah hanya bisa dicapai kalau antara hati manusia dan lawh al-mahfûzh tidak terhalangi oleh apapun. Penghalang hanya mampu disirnakan oleh para nabi dan wali melalui riyâdhah olah diri dan tazkiyah pensucian diri. Perbedaan antara keduanya hanya teletak pada kemampuan dalam menyaksikan kehadiran sang pembawa pengetahuan. Mukâsyafah dalam diri nabi disebut dengan wahyu, sedangkan pada diri wali disebut ilham. Mukâsyafah tidak didapatkan melalui pengkajian atau penalaran. Mukâsyafah adalah buah dari olah diri dan pensucian yang dilakukan para sufi. Itu semua bagaikan kajian keilmuan yang dilakukan para ulama. Dalam hal ini, kajian keilmuan juga mendapatkan pengetahuan dari lawh al-mahfûzh. Perbedaan antara kajian keilmuan dengan mukâsyafah hanya pada mekanisme pencapaian pengetahuan. Para sufi mendapatkan itu melalui olah diri dan amal saleh yang bertumpu pada hati, sedangkan para ulama melalui pengkajian yang bertumpu pada nalar. Para sufi akan terhalangi di saat melakukan kemaksiatan, sedangkan ulama akan terhalangi oleh kelupaan. Bagi al-Ghazali, mukâsyafah adalah kebenaran Ilahiyah. Argumentasinya dapat dimengerti melalui mimpi yang terkadang memberikan informasi berupa kepastian terjadinya peristiwa di masa depan. Hal ini terjadi karena di saat tidur manusia tidak lagi memperhatikan tuntutan-tuntutan jasmaninya. Namun, pengabaian terhadap tuntutan-tuntutan jasmani tidak hanya terjadi pada saat-saat tidur. Dalam kondisi sadarpun manusia mampu menepisnya dengan melakukan puasa, olah diri, dan pensucian hati. Sehingga dalam kondisi sadar, manusia juga mampu mengetahui peristiwa masa depan tersebut. Tidak ada perbedaan antara mukâsyafah melalui mimpi dengan mukâsyafah dalam kondisi sadar. Yang terpenting adalah kemampuan manusia dalam meminimalisir seluruh tuntutan jasmaninya. Selain mendapatkan mukâsyafah, para sufi juga mencapai musyâhadah. Musyâhadah menjadikan para sufi mampu menyaksikan semua fenomena menakjubkan yang tidak bisa disaksikan di alam nyata. Mereka mampu menyaksikan para malaikat, arwah para nabi, serta dapat mengambil manfaat dari persaksian itu. Klimaks dari itu semua adalah fanâ`. Tahapan ini merupakan tahapan paling akhir dari upaya pendekatan para sufi dengan Tuhan. Dalam tahapan fanâ` ini, para sufi akan senantiasa menyaksikan dan merasakan kehadiran Tuhan. Tak ada lain kecuali hanya Tuhan yang tampak oleh mereka. Ini merupakan empati tertinggi para sufi. Fanâ` hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang telah merasakan empati itu. Mempublikasikan empati tersebut kepada masyarakat umum akan melahirkan tuduhan kafir terhadap mereka. Ketidakpahaman terhadap empati itu akan memunculkan klaim panteisme dan inkarnasi. Klaim tersebut muncul akibat ketidakpahaman masyarakat umum mengenai arti fanâ` dalam dunia sufisme. Pengingkaran al-Ghazali terhadap panteisme dan inkarnasi tidak berarti ia mengkafirkan para imam sufi yang mempunyai teori itu. Ia hanya melarang jika teori itu dijalankan oleh masyarakat biasa yang tidak memahami kaidah-kaidah sufisme. Tetapi, itu pun tidak berarti bahwa al-Ghazali merestui teori penteisme dan inkarnasi. Artinya, ia tidak melihat bahwa statemen-statemen para tokoh sufi mengandung arti penyatuan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Statemen-statemen mereka tidak bisa dipahami hanya melalui peranti-peranti tekstual. Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh Abu Yasid al-Busthami, “Maha suci aku dan tidak ada entitas yang lebih agung dariku,” tidak boleh diklaim sebagai bentuk kekufuran. Statemen tersebut tidak berarti bahwa dirinya telah menyatu dengan Tuhan. Justru itu merupakan sebuah ungkapan atas kebesaran Tuhan yang sedang disaksikannya. Artinya, Abu Yazid menganggap dirinya telah mencapai tingkatan paling atas dalam dunia sufisme, sehingga posisinya di hadapan Tuhan tidak tertandingi oleh entitas apapun. Demikianlah konsep tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali di dalam dinasti Saljuk yang berpaham Sunni. Jelas, konsep ini jauh berbeda dengan konsep tasawuf Syi’ah Batiniyah yang sangat identik dengan panteisme dan inkarnasi. Kerhadiran konsep tasawuf al-Ghazali diharapkan menjadi alternatif untuk menggatikan tasawuf Batiniyah. Namun, akibat bias ideologi Sunni pemikiran al-Ghazali nampak paradoks. Pemikiran-pemikirannya terkesan tidak selaras dan saling berbenturan. Ini bisa dilihat dari konsep tasawuf rumusannya yang bertolak belakang dengan ilmu logika yang dipromosikannya. Himbauan untuk bertasawuf hingga mencapai mukâsyafah akan menghantam himbaunnya untuk mempelajari ilmu logika. Antara ilmu mukâsyafah dengan ilmu logika adalah dua hal yang saling berlawanan. Memang, mukâsyafah dan ilmu logika sama-sama mendapatkan pangetahuan dari lawh mahfûzh. Tetapi keduanya tetap berbeda, perbedaannya adalah pada mekanisme pancapaian pengetahuan. Ilmu logika bersandar pada pijakan-pijakan akal, sedang ilmu mukâsyafah justru menihilkan penalaran. Mukâsyafah tidak hanya akan membentur himbauannya akan urgensi ilmu logika, tetapi juga akan membentur pelarangannya terhadap filsafat. Sebetulnya, bila diamati lebih jauh, paradoksalitas pemikiran al-Ghazali lebih disebabkan karena beratnya beban ideologi aliran Sunni yang menindih pundaknya. Himbauannya untuk mempelajari ilmu logika sebenarnya merupakan upayanya untuk menggantikan konsep pembimbing suci’ aliran Syi’ah Batiniyah. Sementara, rumusan tasawufnya sengaja dicanangkan untuk menjadi pengganti atas bangunan spiritualitas Syi’ah Batiniyah. Begitu pula pengkafirannya terhadap filsafat tidak lain adalah untuk mematikan landasan filsafat Syi’ah Batiniyah tersebut. Dalam pandangan al-Ghazali, filsafat Batiniyah adalah perwujudan dari filsafat Neoplatonisme yang dikembangkan al-Farabi dan Ibnu Sina. Sehingga, pengkafiran terhadap al-Farabi dan Ibnu Sina diharapkan akan dapat meruntuhkan dasar-dasar filsafat Syi’ah Batiniyah.[] PENGENALAN ~ Makrifah, Mukasyafah, Musyahadah, Mahabbah & Muhith. Orang yang terang pandangan mata hatinya, tidak akan pernah nampak kesalahan melainkan Haq.. Sesungguhnya Makrifatullah itu kenal, Mukasyafatullah itu amal, Musyahadatullah itu yakin, dan Mahabbatullah itu asyik.. Dan ketahuilah bahawa semuanya itu belumlah sempurna sebelum mencapai Al-Dzatti Muhithullah.. Pintu yang berlapis ini berada dalam QALBUN mu, maka bersegeralah.. MAKRIFAH itu adalah awal pengenalan pada hal perjalanan kerohanian, bukanlah puncak seperti faham kebanyakkan.. Kerana makrifah itu berada dalam firman Allah "Awaluddin Makrifatullah." Seawal Agama Diri itu mengenal ALLAH.. Dalam pengenalan ini, maka terdedahlah seseorang itu dengan pemahaman dan pengenalan istilah dalam Ilmu Tasawwuf itu sendiri.. Dan ini dapat dicerna oleh akal dan fikir manusia yang hakikatnya masih sangat terbatas di sisi ALLAH.. Karna di sisi adalah perihal alam angan dan budi.. Iaitu menyusun istilah kepada tubuh zahir dan batin dengan tanpa melihatnya melainkan hadir dalam rasa.. Dan rasa di sini masih sebenarnya bercampur antara rasa hati dan rasa hawa nafsu, iaitu bercampur dua rasa dalam perasaan kita.. Inilah perlambangan matahari dalam fikiran kita.. Bacalah surah As-syams, di sanalah buktinya.. MUKASYAFAH itu adalah amal kita setelah kita mengetahui kefahaman dan istilah makrifah, untuk membuka tirai hijab kita dengan ALLAH, iaitu akal dan nafsu kita yang selalu menunggangi fikiran kita dalam menebarkan kekuasaannya yang tertuju kepada duniawi atas wadah ukhrawi.. Maka amal kita itu adalah membenam nafsu, akal dan budi yang menjadi hijab penyaksian kita kepada ALLAH.. Inilah perlambangan bulan dalam jantung kita.. Bacalah surah Al-Kahfi, di sanalah buktinya.. MUSYAHADAH itu adalah penyaksian qalbu jiwa kita kepada ALLAH.. Iaitu bila mana ALLAH menerima amal kita dan membuka hijab nafsu, akal dan budi, maka akan kita nampak dengan jelas segala rupa sifat ALLAH yang melekat pada diri kita.. Inilah perlambangan bintang dalam hati kita.. Bacalah Al-Ikhlas, di sanalah buktinya.. Al-'Ikhlāş4 - "Dan tidak ada sesiapapun yang serupa denganNya". MAHABBAH itu adalah cinta kita kepada ALLAH.. Yang menghujankan rasa kasih sayang dan rindu antara kita dengan ALLAH sehingga seolah-olah putus kita dari yang lain walau hakikatnya tidaklah begitu, kerana semuanya asal Esa.. Di sini ada yang menyintai dan ada yang dicintai, ertinya masih dua wujud.. Inilah perlambangan Nur dalam jiwa kita.. Bacalah surah An-Nur, di sanalah buktinya.. MUHITH itu adalah penyatuan yang tiada cerai tanggal, tanpa silang dan tanpa silih lagi.. Iaitu khalik dan makhluk hakikatnya adalah satu jua.. Inilah seperti firman Allah di dalam Hads Qudsi "Al-insanu sirri wa-anna sirruhu, di sanalah buktinya.. Maka nyatalah bahawa sirr itu bukanlah akal karna ALLAH sudah menegaskan dalam firman-NYA bahawa AKU-lah rahsia-NYA.. ~ Allahu A'lam - MUHADHARAH, MUKASYAFAH, DAN MUSYAHA­DAH Muhadharah adalah kehadiran hati, kemudian setelah itu terjadi mukasyafah, yaitu kehadiran hati yang disertai kejelasan ketersingkapan, kemudian timbul musyahadah, yaitu kehadiran Al-Haqq dalam hati tanpa bingung dan linglung. Jika “langit sirri” rahasia ketuhanan bersih dari “mendung sitru”, maka “matahari kesaksian” terbit dari bintang kemuliaan. Hakikat musyahadah seperti yang dikatakan Imam Al-Junaid, semoga Allah merahmatinya, “Wujud Al-Haqq bersama kelenyap­anmu. Salik yang mengalami muhadharah terikat dengan ayat­-ayat-Nya. Salik yang mencapai mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan salik yang memiliki musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya. Salik yang muhadharah akalnya menunjuk­kannya. Salik yang mukasyafah ilmunya mendekatkannya. Dan salik yang musyahadah ma’rifatnya menghapusnya.” Tidaklah bertambah penjelasan mengenai hakikat musya­hadah kecuali diperkuat dengan apa yang diutarakan Amru bin Utsman Al-Maki, semoga Allah merahmatinya. Inti ucapan yang disampaikannya adalah menerangkan bahwa hakikat musyahadah adalah cahaya-cahaya tajalli yang datang susul-menyusul pada hati salik tanpa disusupi sitru dan keterputusan, sebagaimana susul-menyusulnya kedatangan kilat. Malam yang gelap gulita dengan disertai kilat yang datang susul-menyusul dan sambung ­menyambung dapat menjadikannya terang seperti dalam siang. Demikian juga hati jika senantiasa diterangi dengan keabadian tajalli, maka kenikmatan “anugerah siang” kiasan tentang konti­nuitas anugerah keilahian dan ketersingkapan ketuhanan dengan pemanjangan waktu siang hingga menjangkau malam hari akan selalu mengada, sehingga malam tidak lagi ada. Mereka bersyair malamku dengan wajah-Mu terbit bersinar cahaya kegelapannya pada manusia berjalan di waktu malam manusia dalam kepekatan malam yang gelap gulita sedang kami dalam cahaya siang yang terang benderang An-Nuri berkata, “Tidak sah musyahadah salik selama dia dalam keadaan hidup. Jika waktu pagi terbit, lampu tidak dibu­tuhkan lagi.” Segolongan ulama sufi membayangkan bahwa musyahadah menunjukkan keberadaan ujung taftiqah perpisahan, lihat pasal arqu karena bab mufa’alah timbangan kata dalam bahasa Arab hanya terjadi dalam penerapan di antara dua makna. Ini jelas menunjukkan khayalan pelakunya karena di dalam penampakan AI-Haqq adalah kehancuran makhluk. Dalam syair dikatakan ketika menjadi terang pagi hari cahayanya memancar dengan sinar-sinar yang berasal dari pantulan sinar-sinar bintang meminumkan pada mereka segelasdemi segelas saat cobaan membakar sehingga membuatnya terbang secepat orang yang pergi menghilang Gelas apapun akan mencabut mereka dari akamya dan mem­buat mereka fana’ hancur. Gelas menyambar mereka dan tidak membiarkan mereka, tetap dalam keberadaan. Padahal tidak ada gelas yang menetapkan dan memercikkan mereka. Gelas yang mencabut mereka secara keseluruhan dan tidak sedikit pun tulang-belulang manusia yang masih membekas dan ada , adalah seperti yang dikatakan sufi “Mereka berjalan di malam hari tidak tetap, tidak membekas dan tidak meninggalkan jejak.” ………………. Keterangan Dalam pengertian ini Allah berfirman “Kalau sekiranya Kami turun­kan AI-Quran ini pada gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk tersungkur terpecah belch disebabkan takut kepada Allah.” QS. AI-Hasyr- 21 sumber

arti musyahadah dan mukasyafah